Si Hijau Menginjak Bandung Lautan Api



Si Hijau Menginjak Bandung Lautan Api
si hijau di depan rumah
Kali ini gue kembali meninggalkan rumah tercinta di Tangerang beserta keluarga yang gue sayangi. Gue kembali mengadu nasib, hmmm atau lebih tepatnya pergi kuliah di kota Bandung tercinta.

 Ada yang berbeda dari perjalanan kali ini. Pertama, mamah gue gak ikut, karena kan ada si cantik mungil yang belum siap dibawa-bawa ke tempat yang cukup jauh. Jadi, gue berangkat bersama ayah naik kuda besi hijau alias motor ninja.bremmm...
Yup, yang kedua, karena ke kebon nanas naik ninja, tentunya ada niat yang lain juga. Gue akan membawa motor ninja ke Bandung. Nice!!!. Setelah tawar-menawar dengan sopir bis (walaupun harganya gak turun sedikit pun), sekitar 500 ribu rupiah (gue dan motor), gue lepas landas meninggalkan kota Tangerang Akhlaqul Karimah. Lah, terus ayah gue gimana? Nah disinilah peran seorang ayah gue. Ayah gue balik lagi ke rumah dengan bis. Dengan membawa helm tentunya, ayah gueeeee gitu lhooo.hehehe.
Oke, ternyata membawa motor ke bis gak semudah yang gue bayangkan. Motor gue ditaruh dibelakang. Di depan toilet bis. Tentunya ada beberapa bagian dari bis yang harus dibongkar. Lalu motor diangiat dan behhhhh beratnya mantappppp.
Sekitar pukul 6 sore bis berangkat dan sampai di terminal Leuwi Panjang sekitar pukul 10 malam. Yup, terima kasih Arimbi. Lalu, wushhhhh gue menjamah kota Bandung dengan si hijau. Gue ngerasa seperti di film-film aja gitu.wkwkwk seru deh, menjamah kota Bandung. Gue nyampe di kosan sekitar pukul 11 malam, itu juga gue udah makan dulu di Gerlong, lapar sih bro, buat sekalian minum obat. “Bandung, siapkah kau menerima si hijau gue???”
Oia, info, sehari sebelum berangkat ke Bandung, gue sempet beli helm motorcross seharga 500 ribu atau setengah juta, bersama mang Herdi di depan pom bensn Bojong. Alhamdulillah yaa.
proses memasukan si hijau ke dalam bis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar